Senin, 15 September 2014

Biostar P4M890-M7 Support Linux

Artikel ini berisi uji-coba hardware yang kami lakukan apakah benar-benar sudah support terhadap GNU/Linux sehingga berhak masuk kedalam list blog rintisan Uji Hardware pada Linux.


Uji Hardware Istana Media kali ini masih menggunakan motherboard yang terbilang barang lama yaitu Biostar P4M890-M7. Motherboard seri ini milik client kami yang digunakan pada salah satu komputer kasir minimarket. 


Komputer tersebut dibeli pada tahun 2010, bulannya kami tidak hapal, sudah menjadi hukum alam jika benda buatan manusia tidak ada yang sempurna dan abadi, begitupun dengan komputer yang menggunakan motherboard seri ini akhirnya mati secara mendadak.

.
Singkat cerita komputer yang menggunakan motherboard Biostar P4M890-M7 dibawa ke kios oleh salah seorang karyawan mini market, setelah kami bongkar ternyata ada dua kapasitor (elcho) yang sudah rusak dikarenakan thermal (pasta) pada processor kering sehingga suhu motherboard kelewat panas

2 Kapasitor pada motherboard rusak 
Dikarenakan kami selalu ingin memberikan solusi yang cukup murah ke client kami, maka Motherboard tersebut kami usahakaan untuk diservice. Sebenarnya bisa saja kami menyarankan pada client untuk langsung mengganti dengan motherboard yang baru, namun masalahnya motherboard sejenis sudah tidak produksi lagi dikarenakan masih menggunakan RAM DDR2, pertimbangan lainnya adalah jika ganti baru secara otomatis sedikit banyaknya kami harus melakukan konfigurasi ulang pada minimarket tersebut, walaupun client pemilik komputer tersebut menggunakan OS GNU/Linux.

Singkat cerita akhirnya solusinya adalah kapasitor yang rusak diganti dengan mengambil kapasitor pada motherboard lain yang sejenis dan identik. Di bawah ini adalah gambar motherboard yang kapasitornya sudah diganti, memang warnanya terlihat berbeda, tapi tidak mengapa yang penting normal.
Salah seorang teman yang pekerjaannya tukanng buat plat nomor kendaraan pernah bilang jika pengen sama warnanya ya dipilox saja 

Kapasitor sudah diganti

Uji Hardware
Untuk memastikan apakah motherboard tersebut sudah benar-benar normal maka kami melakukan ujicoba, untuk uji-coba maka dipasanglah Hardisk dengan kapasitas 160 GB merk WD yang masih kosong, karena jika menggunakan hardsik bawaan komputer tersebut terlalu beresiko

Motherboard dan Hardisk untuk uji coba 
Motherboard yang belum dipasang pada cassing kami nyalakan, pertama yang dilakukan adalah melakukan pengaturan ulang pada BIOS, hal ini dilakukan karena pada saat motherboard diservice battery CMOS kami lepas agar tidak terjadi korsleting saat dikerjakan.



Berikut urutan setting BIOS yang dilakukan; melakukan pengaturan jam dan tanggal, kemudian dilanjut dengan penyetingan Booting, hal ini dilakukan agar komputer dapat booting melalui Flashdisk, maka yang perlu dipilih adalah menu Advanced BIOS Features, setelah itu tekan Enter maka tampil submenu Hardisk Disk Boot Priority.


Tekan Enter lagi, lakukan pengaturan booting dengan memilih salah satu device yang tampil, secara garis besar caranya seperti pada artikel dengan judul Agar Motherboard dengan BIOS Phoenix dapat booting lewat USB


Jika semua pengaturan pada BIOS selesai maka saatnya uji-coba menggunakan OS GNU/Linux, dalam hal ini menggunkan BlankOn 8 Rote. Dikarenakan hardisk untuk uji-coba dalam keadaan kosong dan belum terpartisi maka pilihan yang tepat adalah masuk terlebih dulu ke mode Live USB. Pada saat mode live itulah dilakukan proses partisi pada hardisk sesuai kebutuhan, kemudian dilanjutkan proses install BlankOn 8 Rote seperti biasanya.


Setelah BlankOn 8 Rote terinstall dengan baik pada motherboard tersebut maka kami adakan uji-coba, saat diuji-coba semua berjalan lancar tanpa banyak mengalami masalah yang berarti. Untuk aplikasi desain grafis berjalan lancar, adapun aplikasi yang sempat dicoba adalah; GIMP, Inkscape, Scribus, dan Blender. Begitupun dengan aplikasi perkantoran semua berjalan lancar.
Untuk memutar lagu menggunakan Audacious juga lancar, suara dari soundcard bawaan lumayan enak dan dapat digunakan secara maksimal.

Salah satu kekurangannya adalah saat digunakan untuk memutar Video jenis HD sering putus-putus (ngelag) kadang malah Logout (keluar) sendiri terutama saat film dipercepat ke bagian tertentu. Hal ini sebenarnya dapat dimaklumi karena motherboard seri ini menggunakan Chipset VGA VIA/S3G UniChrome Pro IGP 64 MB.
Solusi untuk mengatasi hal ini adalah dengan menambahkan VGA PCI  Express X16 minimal 256 MB, hal ini berdasarkan kesimpulan dari uji-coba yang kami lakukan..


Demikian Review Motherboard  Biostar P4M890-M7 berdasarkan uji-coba yang kami lakukan, sebenarnya kami juga ingin mereview hardware yang lebih baru lagi, namun berhubung saat ini kami tidak memiliki barangnya mohon dimaklumi saja, dan semoga saja kami segera memiliki dana yang lumayan agar dapat membeli hardware yang lebih baru.

Minggu, 14 September 2014

Mengenal Koordinat Object pada Inkscape dan Corel Draw

Beberapa minggu lalu saya ngisi pelatihan desain grafis pada salah satu Pabrik Garment yang sedang masa transisi migrasi ke OS GNU/Linux di JaBoDeTaBek, tepatnya ngajari beberapa pegawai pabrik tersebut menggambar pola menggunakan Inkscape.

Sudah bukan rahasia lagi jika para pegawai suatu perusahaan di Indonesia dalam urusan desain grafis terutama vektor kebanyakan hanya menguasai aplikasi menggambar Corel Draw, begitupun beberapa pegawai yang ikut menjadi peserta pelatihan yang diadakan kali ini, ceritanya sih mirip seperti Kisah Perjalanan Sepatu FANS menuju Open Source yang ada di Panduan BlankOn, untuk kisah proses migrasi pabrik garment saya belum bisa share secara terbuka karena belum dapat ijin dari pemilik pabrik, tapi pemilik pabrik sudah berjanji akan membuat artikelnya jika proses migrasi sudah mencapai 90%.

Hari pertama pelatihan berjalan lancar seperti yang terjadi pada saat saya mengisi pelatihan di pabrik sepatu FANS, salah satu materi pelatihan pada hari pertama adalah mengenal transformasi dan letak object pada halaman, pembahasaan utama adalah masalah perbedaa koordinat object pada Inkscape dengan Corel Draw.

Dibawah ini catatan sederhana mengenai perbedaan koordinat yang dipakai kedua aplikasi tersebut

Corel Draw
Koordinat Object terhadap halaman pada Corel Draw adalah berdasarkan pusat object atau dengan kata lain titik nol halaman (sudut kiri bawah) sesuai titik pusat object.
Misalnya jika terdapat object persegi panjang dengan ukuran Lebar 8,00 cm dan tinggi 6,00 cm, kemudian pada kotak X dan Y memiliki nilai 0,00 cm maka tengah-tengah object tersebut berada pada sudut kiri bawah halaman.  



Inkscape
Koordinat Object terhadap halaman pada Inkscape adalah berdasarkan sudut kiri-bawah atau dengan kata lain titik nol halaman (sudut kiri bawah) sesuai sudut kiri-bawah object.
Misalnya jika terdapat object persegi panjang dengan ukuran Lebar 8,00 cm dan Tinggi 6,00 cm, kemudian pada kotak X dan Y memiliki nilai 0,00 cm maka pinggir kiri-bawah object tersebut berada pada sudut kiri bawah halaman.



Diatas adalah perbedaan koordinat yang digunakan oleh dua Aplikasi untuk menggambar yang berbeda, dan semua memiliki kelebihan masing-masing, tentunya orang punya pandangan berbeda tentang kemudahan saat mengunakan fitur tersebut dalam menggambar.

Studi Kasus
Pada saat pelatihan beberapa pegawai mengatakan bahwa koordinat yang dianut (digunakan) Inkscape agak ribet, saya sih memakluminya karena mereka memang dari waktu pertama belajar komputer untuk menggambar hanya diajari Corel Draw dan sejenisnya.

Untuk menemukan jawaban mana yang lebih mudah mengenai koordinat pada dua aplikasi yang berbeda tersebut, maka saya melakukan test ke beberapa orang pegawai tersebut dengan menggunakan kedua aplikasi tersebut, oh ya pelatihan saat itu pesertanya 8 (delapan) orang, enam orang wanita dan dua orang pria.

Bagamanai cara mengujinya?
Dalam melakukan test atau pengujian, peserta dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok masing-masing orang mengunakan Corel Draw, kelompok lainnya menggunkan Inkscape, untuk memilih aplikasi yang akan digunakan peserta dilakukan dengan cara diundi.

Materi pengujian adalah mengatur beberapa gambar pola yang sudah dibuat sebelumnya dalam satu halaman dengan ukuran A3 (29,70 x 42,00 cm) yang akan dicetak pada printer yang telah tersedia. Masing-masing peserta harus menyusun gambar-gambar tersebut dengan jarak tertentu ke dalam halaman A3   Adapun object pertama harus menggunakan jarak dari pinggir halaman kiri dan bawah 1,25 cm sesuai jangkauan printer yang tersedia.
Pada saat pengujian ternyata waktu yang tersedia sesuai rundown sangat mepet atau terbatas, maka akhirnya peserta hanya dapat jatah memasukkan 4 gambar saja ke dalam halaman ukuran A4.

Begini kira-kira ilustrasi sesuai ingatan saya:
Memasukan object atau gambar dengan ukuran lebar 9,55 cm x tinggi 6,75 cm, dengan jarak dari pinggir sisi kiri halaman 1,55 dan dari sisi bawah halaman 1,25 cm.

Jika menggunakan Corel Draw, peserta menyeleksi object yang akan diatur jaraknya terhadap halaman, kemudian menggunakan rumus berikut:
Lebar gambar 9,55cm dibagi dua (sesuai pusat object) maka hasilnya adalah: 4,775 cm, kemudian hasil tersebut (4,775 cm) ditambah 1,55 cm (jarak dari sisi kiri) hasilnnya 6,325 cm, nilai inilah yang dimasukkan pada kotak Xlumayan rumit bukan?.

Sedangkan untuk jarak dari sisi bawah halaman adalah mengisi kotak Y dengan angka 4,625 dari hasil rumus seperti yang digunakan untuk kotak X.


Jika menggunakan Inkscape, peserta menyeleksi object yang akan diatur jaraknya terhadap halaman, kemudian peserta cukup mengisikan nilai pada kotak X dengan nilai 1,55 dan kotak Y dengan nilai 1,25,
sangat mudah bukan?


Untuk mengatur gambar ke 2, 3, dan 4 metode yang digunakan juga hampir sama.

Setelah semua peserta menyelesaikan ujian masing-masing dengan perbedaan waktu yang terpaut cukup lama (Anda simpulkan sendiri lebih dulu yang menggunakan Corel Draw atau Inkscape), maka saya melakukan pengujian untuk mengubah posisi halaman atau kertas yang digunakan yang semula tegak (potrait) menjadi mendatar (landscape), maka hasilnya seperti gambar dibawah ini:

Menggunakan Corel Draw

Menggunakan Inkscape



Demikian artikel saya kali ini tentang perbedaan koordinat yang digunakan dua aplikasi yang berbeda, dan yang namanya kemudahan dan kenyamanan dalam menggunakannya tergantung selera dan ketrampilan masing-masing, sampai jumpa dengan artikel lainnya

Selasa, 09 September 2014

Motherboard Gigabyte GA-81915P-D Pro Support Linux

Artikel ini merupakan review singkat salah satu motherboard yang sudah kompatible dengan GNU/Linux, sengaja kami ulas sebagai pelengkap blog Uji Hardware pada Linux, jika Anda tertarik dengan artikel ini silakan baca sampai selesai, jika tidak tertarik silakan abaikan saja.


Beberapa hari lalu salah satu komputer milik Istana Media yang digunakan untuk berbagai kegiatan sehari-hari dari untuk mengetik, desain, menulis blog, dll. mati secara mendadak.

Setelah dibongkar, ternyata permasalahannya sederhana yaitu thermal pendingin processor kering. Komputer ini sudah dipakai sejak pertengahan tahun 2011, kalau tidak salah 3 hari setelah acara BlanKonf#3 di Semarang, sehingga komputer ini sudah kami pakai kurang lebih selama 3 (tiga) tahun dan hampir setiap hari menyala.



Komputer ini memakai Motherboard Gigabyte GA-81915P-D Pro (bukan promosi merk lho) dengan Processor 3,06 GHz, kami memilih motherboard seri ini karena sangat cocok dengan usaha kami yang bergerak dibidang perkomputeran yaitu service komputer sebagai usaha utama.

Kami memilih Motherboard seri ini karena hampir semua driver sudah kompatible dengan GNU/Linux atau langsung berjalan normal tanpa harus install secara manual.

Dari segi Hardware kami memiliki berbagai pertimbangan sehingga memilih motherboard seri ini, semaunya akan kami tulis secara ringkas dan sederhana pada artikel ini, sekaligus sebagai review.

BIOS
Motherboard ini menggunakan BIOS jenis Phoenix - AwardBIOS yang menurut kami saat itu paling lengkap dalam urusan pengaturan berbagai Peripheral yang sudah terpasang maupun yang akan ditambahkan  lebih mudah.


Port SATA dan IDE
Motherboard ini memiliki dua jenis port untuk media simpan yaitu 4 (empat) port SATA dan 1 (satu) IDE, sehingga kami lebih mudah jika ingin melakukan pengecekan berbagai jenis Hardisk dan Drive Optic yang tersedia di pasaran saat itu, termasuk melakukan backup data penting.


I/O Back Panel
Dibawah ini penjelasan ringkas beberapa fungsi yang tersedia pada port I/O Back Panel
Port I/O pada Back Panel dan keterangannya



Port PS/2
Sering kami gunakan untuk mencoba berbagai Keyboard dan Mouse baik baru maupun bekas, untungnya kami menggunakan System Operasi GNU/Linux, jadi walaupun sering gonta-ganti Keyboard dan Mouse jenis PS/2 tidak perlu melakukan restart berkali-kali seperti yang terjadi pada System Operasi lain.

Parallel Port
Port ini sering digunakan untuk koneksi antara komputer dengan mesin yang masih menggunakan port LPT misalnya, printer lama (contoh; LX 800 atau LX300), mesin Fotocopy, atau beberapa mesin microcontroller pada rumah sakit atau pabrik. Sebenarnya paling sering kami gunakan untuk mencoba printer lama yang belum memiliki port USB
Kabel LPT


SPDIF_O/I
S/PDIF (Sony Philips Digital Interface) digunakan untuk menghubungkan Out atau In dari komputer dengan peripheral Audio jenis Home Theatre atau sebaliknya sehingga bisa melakukan transfer File Audio. Dengan menggunakan fitur ini audio dengan kwalitas Dolby Digital tanpa harus diformat terlebih dahulu ke format analog sehingga penurunan kualitas audio dapat dihindari, hal ini sangat berguna jika ingin menghubungkan peralatan Audio yang sudah mendukung Dolby Digital Decoder sehingga suaranya dapat maksimal.

Fitur ini hanya bisa dinikmati jika menggunakan HD Audio pada pilihan jenis sound card yang tersedia.

Dalam dunia audio digital S/PDIF kadang disebut juga sebagai transfer data dengan istilah Digital Audio Compression (AC-3),


COM A
Untuk menghubungkan mouse atau peripheral model lama yang masih menggunakan port jenis serial, biasanya Joystick pada game atau permainan  lama masih menggunakan jenis port ini.

Port USB
Motherboard seri ini memiliki 4 (empat) port USB pada I/O Back Panel dan 2 Front Panel USB, sehingga jika semuanya diaktifkan maka jumlah Port USBnya menjadi 8 buah. Hal ini sangat cocok sesuai kebutuhan, sehingga jika mau menancapkan beberapa Peripheral tidak kekurangan port, karena sering sekali berbagai peralatan menancap secara bersamaan, misalnya Modem, Printer, Flashdisk, Hardisk External dll.

Semakinnya berkembangnya teknologi belakangan ini kebutuhan port USB semakin bertambah juga, walaupun sudah memiliki 8 Port USB ternyata masih kurang juga, akhirnya kami tambahkan lagi port USB PCI 4 lubang, sehingga total port USB pada komputer ini berjumlah 12 lubang.


LAN
Motherboard seri ini juga sudah dilengkapi dengan LAN Card On-Board sehingga tidak perlu menambahkan LAN PCI lagi.

Line In
Digunakan untuk menghubungkan ke perangkat seperti CD-ROM, Walkman, Media Player atau sumber audio lainnya dengan Jack.

Line Out
Untuk menghubungkan Spekaer aktif atau earphone ke komputer.

MIC In
Untuk menghubungkan MIC atau Mikrofon melalui jack, biasanya digunakan untuk merekam suara.

Rear Speaker Out
Untuk menghubungkan speaker belakang melalui jack pada speaker stereo yang sudah mendukung Surround.

Center/Subwoofer Speaker Out
Untuk menghubungkan Speaker tengah atau Subwoofer melalui jack.

Side Speaker Out
Untuk menghubungkan speaker pada sisi kiri-kanan melalui jack pada speaker stereo yang sudah mendukung Surround.

Uji Coba Menggunakan GNU/Linux
Komputer ini sudah pernah kami uji dengan berbagai Distro Linux dan semuanya berjalan lancar, berikut ringkasannya:

Multimedia
Untuk urusan multimedia semua driver langsung terpasang dengan baik, saat digunakan untuk memutar lagu suaranya cukup nyaman di telinga, begitupun saat digunakan untuk memutar Video kwalitas HD dengan menggunakan Home Theatre dengan opsi SPDIF_O/I suaranya menggelegar, gambar dilayar juga tidak putus-putus.


NetWork
Walaupun saat ini sudah jamannya WLAN, namun kebutuhan port LAN masih sangat dibutuhkan dalam usaha kami, contohnya untuk berbagi data dari komputer satu ke komputer lainnya, sebenarnya kebutuhan utama port LAN pada kami adalah untuk mengecek atau menguji port LAN motherboard lain apakah bermasalah atau normal, teknik yang digunakan adalah menguji motherboard (komputer) lain sebagai client (user) komputer berbasis LTSP.


Dibawah ini tampilan desktop komputer ini saat dijalankan menggunakan 3 (tiga) Distro Linux

Tampilan desktop BlankOn Sajadah 7.0

Tampilan desktop BlankOn 8 Rote


Tampilan desktop BlankOn 9.0 Suroboyo


Kekurangan Motherboard
Sudah menjadi hukum alam jika setiap barang yang punya kelebihan pasti punya kekurangannya, berikut kekurangan dari motherboard seri ini:

Belum mendukung Processor masa kini
Motherboard seri ini belum mendukung processor Dual Core atau seri di atasnya, hal ini dapat dimaklumi karena motherboard seri ini memang keluaran lama.

Audio
Seperti yang sudah sedikit kami ulas diatas bahwa motherboard ini dilengkapi dengan dua jenis pilihan soundcard yang dapat dipilih yaitu AC97 dan HD Audio, namun sayangnya untuk berpindah dari satu soundcard ke yang lainnya harus masuk ke BIOS terlebih dulu sehingga agak ribet.
Saat memainkan musik dengan menggunakan Speaker murahan (speaker kecil) jika menggunakan opsi HD Audio dengan menancapkan jack pada Line Out, maka suaranya jelek (pecah) jika dibesarkan melalui batas tertentu,


Demikian Review Motherboard Gigabyte GA-81915P-D Pro bedasarkan uji-coba yang kami lakukan,  lain kali akan kami sambung lagi dengan pembahasan yang lebih mendalam.
Semua yang kami tulis disini apa adanya sesuai kejadian sesungguhnya tanpa ada niat yang kurang baik, dan kami tulis dengan tujuan sekedar berbagi.

Saran

Saran