Liputan Acara OpenSUSE Asia Summit 2016 (bagian 2)

Postingan ini adalah lanjutan dari Liputan Acara OpenSUSE Asia Summit 2016 (bagian 1), isi dari  postingan kali ini masih berupa cerita singkat yang penulis alami ketika mengikuti acara OpenSUSE Asia Summit 2016.
Jika pada postingan sebelumnya berisi cerita singkat perjalan penulis dari Semarang menuju TKP, maka isi pada postingan kali ini adalah cerita atau pengalaman yang penulis alami ketika mengikuti acara ini pada hari pertama.

Setelah penulis foto bareng dengan salah seorang fans yang ternyata sama-sama masih bau keringat, eh tiba-tiba perut penulis berbunyi, dan baru ingat kalau penulis belum makan siang, akhirnya penulis clingak-clinguk ke meja Panitia untuk cari sesuatu yang dapat dimakan (daripada maag kumat mending cari makan), eh ternyata meja panitia sedang dibersihkan oleh cleaning service, yang ada cuma minuman air mineral. Singkat cerita akhirnya penulis mendapatkan 1 kotak nasi berikut lauknya di booth OpenSUSE Indonesia (gak tahu punya siapa, pokoknya langsung embat aja).

Selesai makan, penulis ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman, di Booth OpenSUSE Indonesia penulis sempat mencoba Laptop yang biasanya digunakan oleh Militer, Laptop ini menggunakan Sistem Operasi BlankOn Linux yang dikembangkan khusus untuk militer.



Ketika sedang asyik mencoba laptop khusus militer, datang beberapa teman penulis dari berbagai komunitas yang sudah berada di acara ini lebih dulu, yah..... ketemunya lo lagi lo lagi. Akhirnya penulis ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman komunitas (obrolan yang sebenarnya tidaklah sangat penting).
Tidak begitu lama datang juga beberapa teman dari Komunitas Inkscape Indonesia ke booth Blankon yang berada di depan booth OpenSUSE Indonesia, seperti yang pernah terjadi sebelumnya, para fans penulis minta untuk foto bersama, seperti di bawah ini.

Di Booth BlankOn Linux kami foto ber-empat, salah seorang yang ikut foto bilang bahwa dengan adanya foto ini maka kami bisa menunjukkan ke orang lain jika kami bukan hanya sebuah boot, kami adalah nyata.
Kami nyata, bukan makhluk Astral

Salah seorang pengguna Inkscape dari jogja dapat doorprize dari komunitas OpenSUSE Jepang berupa majalah yang sampulnya cukup menarik, dan ketika kami buka, ternyata isinya memang sangat menarik sekali, saking menariknya sampai-sampai kami tidak ada yang bisa membaca tulisannya kecuali tulisan pada sampul depannya.

Dengan adanya majalah berbahasa jepang tersebut, beberapa teman punya ide untuk membuat majalah atau buku yang serupa, jika perlu tulisannya pakai Aksara Nusantara (contoh huruf jawa). Sebenarnya beberapa tahun lalu BlankOn Linux bekerjasama dengan Majalah Info Linux pernah punya proyek menerbitkan majalah atau buku yang serupa dalam versi cetak, namun sayangnya proyek tersebut tidak berlanjut, dan penulis punya niat untuk melanjutkan proyek tersebut, semoga saja dapat terlaksana dalam waktu dekat ini.

Dikarenakan waktu ini itu penulis belum melaksanakan Sholat Asyar, akhirnya penulis berpamitan ke teman-teman komunitas Inkscape Indonesia untuk melaksanakan Sholat Asyar.

Singkat cerita, penulis sudah kembali ke booth BlankOn Linux, di booth tersebut pak Iwan Tahari (pemilik pabrik sepatu FANS) sedang ngobrol dengan beberapa orang peserta OpenSUSE Asia Summit 2016, salah seorang bertanya, dimana bisa membeli sepatu merek FANS, pak Iwan Tahari menjelaskan bahwa Sepatu FANS dapat dibeli di beberapa toko Sepatu di Jawa Tengah dan sekitarnya (termasuk di Yogyakarta), bahkan siapapun bisa mendapatkan sepatu FANS secara gratis dengan mengikuti Sayembara Menulis di Panduan BlankOn, kemudian pak Iwan Tahari meminta saya untuk menjelaskan secara singkat cara mengikuti sayembara tersebut, yah akhirnya penulis ngoceh panjang kali lebar kali tinggi menjelaskannya secara singkat.
Pukul 17.00 WIB acara OpenSUSE Asia Summit 2016 hari pertama selesai, ketika kami akan pulang ke penginapan masing-masing, ternyata sedang gerimis, karena takut basah, mikir sana mikir sini akhirnya kami mencari kardus bekas untuk berlindung dari hujan ketika berjalan (mau cari daun pisang agar seperti di filim-film jama dulu sulit), singkat cerita penulis dan 4 orang lainnya sampai di hotel tempat kami menginap (penulis menginap di Hotel Mutiara dengan pak Iwan Tahari, tentu saja yang bayar sewa hotelnya bukan penulis).
Sebelum kami pulang ke penginapan masing-pasing, salah seorang panitia memberitahu bahwa nanti pukul 19.xx WIB, Panitia dan Pembicara serta Undangan Khusus akan ada cara makan malam bersama (penulis sih ngikut aja walaupun bukan siapa-siapa diantara mereka), katanya tempat makan malamnya di Kedai Ayu.

Pukul 18.51 WIB kami berlima bersiap-siap untuk berangkat, eh ketika keluar dari hotel ternyata masih gerimis, karena kami berlima semuanya orang asing di Yogyakarta, maka secara otomatis tidak tahu seberapa jauh jarak dari hotel ke tempat acara makan bersama. Cara termudah adalah dengan naik taksi, ketika kami mikir bagaimana cara mendapatkan taksi ke tempat acara makan malam, eh sekonyong-konyong tiba-tiba di depan hotel muncul satu mobil taksi mengantar orang yang mau menginap di hotel tempat kami menginap. Setelah penumpang taksi tersebut turun, maka kami nego dengan sopir taksi agar mau mengantar kami ke tempat acara makan malam. Singkat cerita pak sopir taksi mau mengantar kami, disini terjadi dua masalah, pertama; ternyata taksi yang akan kami tumpangi tersebut walupun jenis jazz tapi kursi untuk penumpangnya hanya cukup untuk 4 orang saja, sedangkan kami berlima (kursi di ruang belakang dilepas), yah akhirnya salah seorang dari kami harus lesehan, masalah kedua adalah tempat makan malam yang diberitahu oleh salah seorang panitia ternyata salah, katanya Kedai Ayu, eh yang benar adalah Kedai Timoho, untung saja kami tidak nyasar di tengah kota Yogyakarta.

Singkat cerita kami sampai di Kedai Timoho, ketika kami berlima masuk dan mencari undangan yang lain di beberapa ruangan Kedai Timoho, tak satupun yang kami temukan, eh ternyata panitia booking ruangan khusus di pojok paling belakang yaitu ruangan berbentuk Joglo.

Acara makan malam pun begitu meriah dengan obrolan yang seru, terutama di meja kami yang sebagian besar gendernya sama, bahkan ketika ada beberapa undangan dengan gender berbeda datang terlambat tidak ada yang mau gabung ke meja kami. Eh begitu ada yang mau gabung, langsung saja para senior tidak mau mengalah dengan yang muda-muda. Penulis tidak akan bercerita banyak apa saja yang terjadi ketika kami makan di Kedai Timoho, biarlah beberapa gambar di bawah ini yang bercerita



Demikian Liputan singkat acara OpenSUSE Asia Summit 2016 hari pertama, bersambung ke Liputan Acara OpenSUSE Asia Summit 2016 (bagian 3)

Berikut adalah beberapa bocoran gambar pada Liputan Acara OpenSUSE Asia Summit 2016 (bagian 3)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Liputan Acara OpenSUSE Asia Summit 2016 (bagian 2)"

Post a comment

Silakan langsung tulis komentar Anda jika ada pertanyaaan, koreksi atau penjelasan lainnya sesuai tema pada artikel, budayakan ber-komentar dengan baik.